KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak pasar obligasi Indonesia dan kehadiran seri-seri yang menjadi calon acuan baru membuat volume perdagangan surat utang negara (SUN) seri acuan atau benchmark menurun.
Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, volume perdagangan SUN seri acuan turun 37,92% (mom) dari Rp 186,06 triliun pada bulan Agustus 2018 menjadi Rp 115,52 triliun pada September 2018.
Tren serupa kembali terjadi di bulan Oktober 2018. Pada saat itu, volume perdagangan SUN seri acuan turun 25,24% (mom) menjadi Rp 86,36 triliun.
Analis Obligasi BNI Sekuritas Ariawan mengatakan, kuatnya sentimen negatif seperti ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS hingga peningkatan persepsi risiko investasi di Indonesia dalam dua bulan terakhir membuat kondisi pasar obligasi dalam negeri kurang stabil.
Lantas, volume perdagangan SUN seri acuan secara keseluruhan menurun mengingat para investor cenderung berhati-hati masuk ke pasar obligasi Indonesia. Apalagi, seri-seri acuan cukup terpengaruh sentimen global mengingat total outstanding dan tingkat likuiditas yang tinggi. “Pergerakan harga dan yield SUN seri acuan sangat volatil belakangan ini,” imbuhnya, Selasa (6/11).
Selain itu, munculnya dua seri baru yaitu FR0077 dan FR0078 turut menjadi sebab penurunan volume perdagangan SUN seri acuan. Kedua seri ini merupakan calon seri acuan baru di tahun depan untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun.
Menurut Ariawan, minat investor terhadap seri FR0077 dan FR0078 tergolong tinggi. Walau tidak menyebut volume perdagangan di pasar sekunder, ia menyebut rata-rata penawaran untuk masing-masing seri tersebut mencapai Rp 10 triliun ketika ditawarkan melalui lelang di pasar perdana.
Sebagai catatan, seri FR0077 memiliki waktu jatuh tempo pada 15 Mei 2024, sedangkan FR0078 memiliki waktu jatuh tempo pada 15 Mei 2029. Kedua seri tersebut pertama kali diperkenalkan dalam lelang SUN tanggal 25 September lalu.
Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menyampaikan, tingginya minat investor terhadap seri FR0077 dan FR0078 membuat seri acuan terkini seperti FR0063 yang bertenor 5 tahun dan FR0064 yang bertenor 10 tahun mulai tergantikan. “Sebenarnya, dari sisi volume FR0063 dan FR0064 tetap tinggi. Namun, volume keduanya kalah dibandingkan FR0077 dan FR0078,” katanya.
Dia menambahkan, para investor berbondong-bondong memburu FR0077 dan FR0078 dengan memanfaatkan momentum posisi yield yang tergolong tinggi dan likuiditas yang mumpuni sebagai calon seri acuan.
Mengutip Bloomberg, Selasa (6/11), yield SUN seri FR0077 berada di level 8,08%, sedangkan FR0078 berada di level 8,20%. “Investor membelinya sejak tahun ini dengan harapan ketika yield SUN kembali mengalami tren penurunan di tahun depan, investor tersebut bisa memperoleh capital gain secara optimal,” ungkap Made.
Terlepas dari itu, para analis sepakat bahwa tren penurunan volume perdagangan SUN seri acuan masih akan berlanjut di sisa tahun ini. Selain pasar obligasi yang masih berpotensi berada dalam ketidakpastian, secara historis para investor juga cenderung tidak terlalu agresif dalam bertransaksi di akhir tahun.
Ariawan menilai, volume perdagangan SUN seri acuan baru akan kembali meningkat di awal tahun depan. “Saat itu seri acuan telah berganti dan investor biasanya memanfaatkan momen awal tahun untuk melakukan rebalancing portofolio,” kata dia.
Editor: Komarul Hidayat
Editor: Komarul Hidayat
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Terpengaruh sentimen global, volume perdagangan SUN seri acuan menurun"
Post a Comment