Laporan Reporter Kontan, Annisa Maulida
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat berdampak bagi impor sapi bakalan dari Australia. Alhasil, para feedlotermengurangi jumlah pengiriman hingga nilai tukar rupiah kembali stabil.
Anggota Dewan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Achmad yang juga Direktur Utama PT Cadila Lestari mengatakan, untuk saat ini mereka tidak mengimpor sapi bakalan sampai kondisi terkendali.
"Sekarang impor saya kurangi, hanya untuk mengisi kandang. Sampai September ini, saya sudah mengimpor sekitar 14.619 ekor sapi kurang lebih 25% kapasitas impor manakala kondisi normal," lanjutnya.
Achmad menjelaskan, dengan melemahnya rupiah dan menguatnya dollar AS sangat mempengaruhi para feedloter.
Ini karena untuk mengimpor sapi tersebut harus menggunakan dollar dan mereka belum bisa memprediksi harga sapi hingga dollar dalam keadaan stabil.
Baca: Target-target Indikatif di RAPBN 2019 Berpeluang Berubah, Tapi Tetap Ada Defisit Anggaran
Sapi bakalan yang di impor dari Australia, memungkinkan memiliki kualitas bagus dan harganya murah. "Per kilogram (kg) timbang hidup antara US$ 3-US$ 3,5," ujar Achmad kepada Kontan.co.id, Minggu (9/9/2019).
Pada usia 2 tahun-2,5 tahun sapi bakalan optimal untuk digemukan dengan berat rata-rata sekitar 350 kg dan di gemukan selama 2 bulan-3,5 bulan.
"Kita gemukan biasanya per hari kurang lebih 1 kg. Ada yang 9 ons, ada yang 1,1 ons, dan ada juga yang 7 ons, semua tidak sama," kata Achmad.
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Terpapar Pelemahan Kurs Rupiah, Pengusaha Penggemukan Sapi Kurangi Impor Sapi Bakalan"
Post a Comment