Dana Desa Jadi Godaan
Diskusi Hadirkan Sujiwo Tejo
UNGARAN - Dana Desa, tergolong godaan semua orang. Meski demikian, Budayawan Sujiwo Tejo yakin, keperuntukannya lebih pada insfrastruktur.
Bebeda ketika berbicara dana untuk membina anak-anak desa untuk berlatih musik yang bagus, untuk pembinaan olahraga itu menurutnya tidak ketok mripat (kelihatan-Red). ”Pasti larinya ke insfrastruktur, padahal insfrastruktur itu penting tetapi kita tidak makan insfrastruktur. Dan prinsipnya, Dana Desa itu tidak membuat hal semuanya jadi duit,” tandasnya ketika memberikan orasi budaya dan diskusi Festival Dana Desa 2018 di GOR Pandanaran, Wujil, Kabupaten Semarang, Kamis (27/12) malam.
Pria yang dijuluki sebagai Presiden Dancukers itu kemudian bertanya, sekarang di desa ketika ada undangan selalu mendadak atau sebaliknya? Jika masih ada tradisi sebar undangan mendadak, artinya menurut Sujiwo Tejo, itu bisa mutlak dikatakan sebagai desa dan itu tidak berubah sejak 25 tahun yang lalu. ”Dahulu ketika bapak saya ada hajatan, sorenya saya naik sepeda nyebar ulem karena belum ada telepon. Itu mau dia dokter, atau apa pasti datang dan tidak ilok kalau ninggalin undangan itu,” tandasnya.
Berbeda ketika di kota besar, tradisi ini tidak ada. Saat hendak menggelar tahlilan misalnya, pasti harus kasih undangan tujuh hari sebelum pelaksanaan. ”Artinya, Dana Desa itu bagus. Tetapi jangan sampai membuat semuanya jadi duit. Jangan sampai ada istilah, aku gelem teka tapi sori ora saiki soale dadakan merga aku kudu nok rumah sakit,” imbuhnya.
Pada acara yang dipandu pewara, Adheniar Juliane Maeda, semalam, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyempatkan diri datang dan menjawab pertanyaan dari penonton. Salah satunya tentang bagaimana cara mencari pemimpin yang baik? Ketika itu, Ganjar menjawab hal itu tidak mungkin ketemu. ”Sik enek, pemimpin sing kurang. Dadi upama ana 3 calon iki kurang kabeh, golek ana sik paling punjul. Pilihlah pemimpin yang paling baik, yang punya keunggulan,” tuturnya.
Dalam diskusi, Ganjar menyatakan, alokasi Dana Desa dari Pemerintah Pusat itu akan selalu diberikan meski berganti pemimpin. ”Mungkin akan dihentikan jika desa benar-benar sudah mandiri,” ujarnya.
Orasi budaya tambah gayeng, setelah Sujiwo Tejo memberikan selingan beberapa lagu ciptaannya diiringi Ecoustik Band dan Paduan Suara Lentera Kasih. Diantaranya lagu Ingsun, Goro-goro, Anyam Anyaman, Sugih Tanpa Banda, Lullaby, Dancuk, dan ditutup dengan lagu Pada Suatu Ketika. (H86-61)
Berita Terkait
Loading...
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Dana Desa Jadi Godaan - Suara Merdeka CyberNews"
Post a Comment