Search

Analis: BI rate agresif, jangka pendek bagus untuk saham bank

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI)  mulai agresif menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR). Dalam dua bulan terakhir, tepatnya Mei dan Juni, BI total telah mengerek suku bunga sebesar 100 bps ke level 5,25%.

Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap suku bunga global agar posisi rupiah dapat terjaga. Pasalnya berdasarkan data RTI, rupiah sempat tertekan karena efek global mencapai Rp 14.403 pada perdagangan Jumat (29/6).

Kondisi ini tertentu bisa berdampak pada emiten dalam negeri khususnya perbankan. Kondisi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja bank.

Muhammad Alfatih, analis Samuel Sekuritas, mengatakan, akan ada kekawatiran khususnya risiko kualitas kredit apabila bank menaikkan suku bunga kredit untuk merespons bunga BI. Juga ada risiko margin bunga tertekan apabila bank menahan bunga kredit.

“Namun secara jangka pendek akan berdampak baik bagi emiten bank. Setelah dari awal tahun sempat turun,” ujar Al Fatih, Jumat (29/6). Sebagai contoh, pada penutupan perdagangan Jumat (29/6), saham BBNI naik 3,7% menjadi Rp 7.050, BBCA naik 2,5% menjadi Rp 21.475 dan saham BMRI naik 3,8% menjadi Rp 6.850.

Meski demikian, harus dipertimbangkan keberlanjutannya. Sebab, penurunan harga saham juga efek dari global yaitu rebalancing portofolio asing yang melakukan penyesuaian dengan menjual saham domestik. “Serta faktor defisit neraca dagang Indonesia dan harga minyak naik. Sekarang asing memang cenderung membawa dividen ke negerinya, jadi rupiah tertekan,” papar Al Fatih.

Ia merekomendasi investor bisa terus melakukan trading dengan memperhatikan level rebound maksimal. Sebab, kenaikan ini masih bersifat jangka pendek. Seperti saham BBCA, jika sudah naik hingga 22.000, bisa dikurangi karena memang tekanan jual yang tinggi di level tersebut. Sedangkan, saham BBNI saat sudah mencapai 7.700 sampai 8.000, trading bisa dikurangi.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji merekomendasikan, jika investor ingin trading saham perbankan bisa masuk ke saham BBNI, BBRI, BBCA dan BMRI, untuk yang memiliki modal besar. “Serta BBTN, karena ada program 1 juta rumah yang bisa menjadi sentimen positif,” kata Nafan.

Selain suku bunga acuan BI, kata Nafan, ada faktor positif yang mempengaruhi emiten bank secara jangka panjang, seperti program pemerintah 1 juta rumah dan relaksasi LTV dari Bank Indonesia.

Terkait kekawatiran kinerja bank akan tergerus karena margin mungkin tertekan, menurut Nafan, bank sebetulnya punya alternatif lain pemasukan yang bisa diandalkan seperti fee based income (FBI) atau pendapatan komisi dari bisnis jasa perbankan.

Selain itu, menurut Nafan, emiten bank akan bergerak sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena dari kapitalisasi pasar yang besar. Tren indeks sudah menunjukan perbaikan dan diharapkan diikuti emiten bank yang akan melaju positif.


Reporter: Yoliawan H
Editor: Dupla Kartini

REKOMENDASI SAHAM

Let's block ads! (Why?)

http://investasi.kontan.co.id/news/analis-bi-rate-agresif-jangka-pendek-bagus-untuk-saham-bank

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Analis: BI rate agresif, jangka pendek bagus untuk saham bank"

Post a Comment

Powered by Blogger.