Jakarta - Memilih bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraan ternyata mudah. Cukup menyesuaikan anjuran dari pabrikan, sehingga BBM dipastikan mendukung performa kendaraan secara optimal.
Sebaliknya, jika memakai BBM dengan oktan yang tidak sesuai rekomendasi, bisa berakibat buruk bagi kendaraan. Demikian disampaikan pendiri sekaligus instruktur senior Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana. “Para pengguna kendaraan harus benar-benar memperhatikan standar BBM yang diperlukan kendaraan. Mereka harus memakai BBM dengan oktan yang dianjurkan pabrikan,” ucap Sony di Jakarta, Kamis (28/6).
Penggunaan BBM sesuai anjuran pabrikan tersebut, kata dia, biasanya tertulis pada buku manual. Pemilik kendaraan harus benar-benar memperhatikan anjuran tersebut, karena spesifikasi mesin kendaraan keluaran baru sudah berada pada rasio kompresi 10:1.
Dalam kondisi teknis seperti itu, dia menuturkan, yang sesuai adalah BBM beroktan tinggi, minimal 92 seperti Pertamax Series. Begitu pula dengan komponen penting kendaraan, seluruhnya juga sudah disetel untuk BBM beroktan tinggi tersebut.
Salah satunya adalah engine control unit (ECU), yang bisa disebut sebagai jantung bagi kendaraan keluaran terbaru. ECU tersebut sangat sensitif terhadap BBM yang dipergunakan dan hanya berfungsi jika BBM yang dipakai sesuai rekomendasi industri otomotif.
Komponen tersebut tidak akan berfungsi, demikian Sony, jika pemilik kendaraan bermotor memaksakan memakai BBM dengan oktan yang lebih rendah. "Mobil-mobil sekarang sudah dilengkapi dengan ECU, dan komponen tersebut sudah disetel untuk oktan tertentu,” lanjut dia.
Penggunaan BBM yang tidak sesuai anjuran pabrikan, menurut Sony, bisa menyebabkan ECU tidak bisa membaca, sehingga fungsinya menjadi kacau. Gejalanya bisa dilihat dari indikator engine check pada panel meter yang menyala.
“Ada beberapa mobil yang tidak mau digas, ketika engine check menyala. Ada juga yang cuma bisa dibawa 3 km per jam, sehingga bisa ke bengkel terdekat. Tetapi ada juga yang menyala dan jalan sebentar, setelah itu mati. Kalaupun bisa dihidupkan lagi, akan mati lagi,” jelas dia.
Bukan hanya mendukung kinerja ECU, Pertamax series juga membuat mesin menjadi awet dan bersih karena pembakarannya yang memang sempurna. Sebaliknya, jika pengguna kendaraan memakai BBM beroktan rendah, akan muncul kerak pada ruang bakar dan membuat mesin mengelitik (knocking).
“Jangan lupa, itu adalah dampak paling ringan. Terparah, kalau bukan piston yang jebol, ya stang pistonnya,” jelasnya.
Kerusakan akibat pemakaian BBM yang tidak sesuai anjuran, menurut Sony, tergantung jenis kendaraan. Untuk mobil-mobil yang memiliki teknologi terkini atau mobil mewah, kerusakan bisa terjadi dengan sangat cepat, yaitu hitungan bulan.
Sementara itu, untuk mobil-mobil yang lebih murah, kerusakan akan terjadi dalam waktu lebih lambat, yakni hitungan tahun.
“Yang jelas, apapun jenis mobilnya, jika diberikan BBM dengan kadar oktan lebih rendah dari ketentuan pabrikan, maka akan sama-sama mengalami kerusakan,” lanjut Sony.
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Ini Risiko Gunakan BBM Tak Sesuai Rekomendasi Pabrikan"
Post a Comment